Belajar dari Raja Bhumibol Adulyadej

img_4879

Empat hari berpetualang di Thailand, cukup membuat saya kagum terhadap Raja Thailand yang meninggal kemarin, Raja Bhumibol Adulyadej. Kekaguman saya bermula ketika melihat di pusat Kota Bangkok, terdapat deretan perumahan kumuh di bantaran kali dan di bawah jembatan. Kenapa kagum?

Dulu sekali, mungkin 6 – 10 tahun yang lalu, pemandangan ini juga mudah ditemui di Jakarta. Saat ini dengan alasan tanah negara dan menata kota, perumahan kumuh seperti ini telah digusur. Lalu, mengapa di tahun 2016, di Kota Bangkok di tengah kotanya masih ada yang seperti ini? ternyata tanah yang ditempati perumahan kumuh itu adalah tanah milik Raja.

Di Thailand, pemerintahan dijalankan oleh Perdana Menteri, namun Raja masih sangat dihormati. Pemerintah tidak berani mengganggu kekuasaan Raja, termasuk tanah-tanah yang dimiliki oleh Raja. Raja Thailand Bhumibol sangat memperhatikan rakyat miskin, sampai-sampai dikeluarkan pernyataan bahwa, tanah Raja untuk rakyat miskin. Jadilah rakyat miskin yang tak punya uang untuk beli tanah/rumah, berani menempati tanah Raja membangun perumahan kumuh disana. Pemerintah tak berani mengusiknya.

Bukan berarti tak ada yang dilakukan oleh pemerintah, mereka telah membangun rusun-rusun di pinggiran kota, namun pemerintah tak berani memaksa rakyat miskin untuk pindah kesana.

Apalagi yang diberikan Raja untuk Rakyat? ada transportasi bis gratis di Thailand. Bis ini berwarna merah, gratis untuk siapapun. Namun, ternyata tak seperti dugaan saya, bis ini jarang terlihat penuh, kabarnya yang naik bis ini hanya orang yang benar-benar ga punya uang, atau sedang ga bawa uang sama sekali. Ada rasa malu menaiki bis ini.

Di bagian depan bis ada tulisan yang artinya “Bis ini GRATIS, dari PAJAK Rakyat”.

Lalu apa lagi? Kesehatan. Fasilitas kesehatan Gratis untuk seluruh warganya di rumah sakit pemerintah. Ada yang unik terkait kebijakan kesehatan gratis ini. Empat sampai lima tahun lalu ada kebijakan terkait ROKOK. Dulu harga rokok satu bungkus 15 Baht (setara Rp6.000), saat ini jadi 100 Baht (setara Rp40.000), dan rokok tidak boleh dipajang di display toko. Toko hanya boleh menempel tulisan yang artinya “Di sini jual Rokok”.

Setelah kebijakan rokok berubah, kabarnya biaya kesehatan gratis untuk rakyat menurun signifikan.

Kembali ke Raja Bhumibol. Di pinggir-pinggir jalan di Thailand, banyak ditampilkan baliho-baliho besar foto Raja dan keluarganya. Di perusahaan Home Shopping yang saya kunjungi, bahkan ada mobil golf yang pernah dinaiki oleh Raja dan keluarganya, diabadikan, diberi space khusus disertai foto-foto saat Raja menaikinya. Hal ini menunjukkan betapa rakyat Thailand sangat menghormati dan mencintai Raja Bhumibol.

Raja Bhumibol juga sangat memperhatikan warga muslim minoritas. Tak heran, banyak berdiri masjid-masjid besar di Bangkok maupun di Pattaya (yang saya kunjungi). Penduduk muslim kurang lebih hanya 10% di Thailand, tapi kehidupan Budha – Muslim disini sangat harmoni, berbeda dengan Myanmar. Raja Thailand memberi perhatian khusus terhadap kebutuhan-kebutuhan warga yang beragama Islam, termasuk produk Halal. Kabarnya, di daerah-daerah muslim, ada rumah potong hewan khusus muslimnya.

Saat ini, Raja Bhumibol telah wafat. Pasti rakyat Thailand sangat sedih dan berduka, dan saya turut merasakan duka cita mendalam atas meninggalnya Raja Bhumibol. Bahkan di Thailand dinyatakan berkabung selama satu tahun. Semoga penggantinya 11-12 sama Raja Bhumibol.

Saya mendapatkan info di atas dari Tour Guide selama 4 hari di Thailand, bernama Pak Ali, warga asli Thailand beragama Islam. Khap khun khap.img_4854

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s